Sabtu, 07 April 2012

udang crustacea


Crustacea
Crustacea merupakan kelas dari phyllum Arthropoda, yang mempunyai ciri umum bagian tubuh luar yang dilindungi oleh karapaks yang tersusun dari calcarious dan kitin, tubuh simetris bilateral (Suwignyo, 1989).
Crustacea adalah fillum Arthropoda yang sebagian besar hidup di laut dan bernapas dengan insang. Tubuhnya terbagi dalam kepala (cephalo), dada (thorax), dan perut (abdomen). Kepala dan dada bergabung membentuk kepala-dada (chepalothorax). Kepalanya biasanya terdiri dari lima ruas yang tergabung menjadi satu. Mereka mempunyai dua pasang antena, sepasang mandibel (mandible) atau rahang dan dua pasang maksila (maxilla). Beberapa diantaranya digunakan untuk berjalan. Ruas abdomen biasanya sempit dan lebih mudah bergerak dari padakepala dan dada. Ruas-ruas tersebut mempunyai embelan yang ukurannya sering mengecil  (Nontji, 1993).
            Crustacea mempunyai kulit (cangkang) yang keras disebabkan adanya endapan kalsium karbonat pada kutikula. Semua atau sebagian ruas tubuh mengandung apendik yang aslinya biramus. Bernapas dengan insang atau seluruh permukaan tubuh. Kelenjar antena (kelenjar hijau) atau kelenjar maxilla merupakan alat ekskresi. Kecuali jenis-jenis tertentu, crustacea pada umumnya dioecious, pembuahan di dalam. Sebagian besar mengerami  telurnya. Tipe awal larva crustacea pada dasarnya adalah larva nauplius yang berenang bebas sebagai plankton (Ghufronet al, 1997).
            Ciri khas kepala crustacea dewasa ialah adanya sepasang antena pertama, sepasang antena kedua, sepasang mandibel, sepasang maxilla pertama dan sepasang maxilla kedua. Mata majemuk tidak dianggap sebagai apendik beruas-ruassejati. Pada cladócera maxilla kedua menghilang, sedangkan pada Ostracoda maxilla kedua hilang sama sekali (Ghufronet al, 1997).
            Menurut Suwignyo (1989),  pembagian lama Crustacea dibagi menjadi :
1.         Entomostraca
Terdiri dariber bagai ordo yang heterogen dan berbeda satu sama lain seperti perbedaan masing-masing ordo terhadap malacostraka.
2.         Malacostraca : golongan crustacea yang tubuhnya terbagi dengan jelas menjadi kepala thorax dan abdomen. Hampir tiap ruas tubuh mengandung sepasanga pendik. Berukuran lebih besar dari  pada entomostraca.

1.1       Pengertian Udang
Dari sekian banyak udang laut (Pennaidae) yang terdapat di Indonesia, ada 11 jenis yang dikategorikan mempunyai nilai niaga penting. Umumnya terdiri dari 2 marga yakni Pennaeus dan Metapennaeus. Mereka tidak hanya terdapat di laut, tetapi juga sampai ke tambak–tambak. Bahkan sekarang udang banyak dibudidayakan. Udang yang dipelihara di tambak antara lain udang windu (Pennaeus monodon), udang putih (Pennaeus merguiensis dan Pennaeus indicus), udang api–api (Metapennaeus monoceros dan Metapennaeus ensis), udang cendana (Metapennaeus brevicornis), dan udang krosok (Metapennaeus burkenroadi) (Nontji, 1993).
Udang laut menjalani dua fase kehidupan yaitu fase di tengah laut dan fase di perairan muara. Fase di tengah laut adalah fase dewasa, kawin, dan bertelur. Beberapa saat sebelum kawin, udang betina terlebih dahulu berganti kulit. Setelah mengalami pergantian kulit beberapa kali, kemudian menjadi zoea. Pada stadium zoea, larva mulai mengambil makanan dari sekitarnya. Giliranselanjutnya, bentukzoea akan berubah lagi menjadi mysis. Dari stadium mysis, larva bermetamorphosis menjadi stadium post larva. Anakan udang yang bersifat planktonik ini kemudian beruaya (migrasi) kepantai, cenderung keperairan muara sungai (Nontji, 1993).
 
Udang terutama jenis laut memiliki aneka warna yang indah dengan adanya pigmen dalam eksoskeleton. Beberapa jenis dapat mengadaptasikan diri dengan berubah warna sesuai warna lingkungannya, misalnya udang yang hidup di antara ganggang laut berwarna kuning kehijauan “olive yellow” denagn bercak-bercak. Ukuran bervariasi dari beberapa millimeter sampai lebih dari 50 cm (Suwignyo, 2005).

1.2       Taksonomi Udang
Crustacea adalah hewan akuatik (air) yang terdapat di air laut dan air tawar.Kata Crustacea berasal dari bahasa latin yaitu kata Crusta yang berarti cangkang yangkeras. Ilmu yang mempelajari tentang crustacean adalah karsinologi (Demarjati et al.,1990 ). Jumlah udang di perairan seluruh dunia diperkirakan sebanyak 343 spesiesyang potensial secara komersil. Dari jumlah itu 110 spesies termasuk didalam familiPenaidae. Udang digolongkan kedalam Filum Arthropoda dan merupakan Filumterbesar dalam Kingdom Animalia (Fast dan Laster, 1992).Menurut Sterrer (1986), udang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Crustaceae
Sub Kelas        : Malacostraca
Ordo                : Decapoda
Family             : Palaemonoidae
  Penaeidae
Genus              : Macrobranchium
  Caridina
  Penaeus
    Metapenaeus

1.3       Morfologi Udang
Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagianbadan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yangterdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagianbadan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasanganggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapatekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing (Rizal , 2009),sepertipada Gambar 1 berikut ini.
Gambar 1. Morfologi Udang
Keterangan:
a = alat pembantu rahang
b = kerucut kepala h = kaki renang
c = mata i = anus
e = sungut kecil
d = cangkang kepala
f = sungut besar
g = kaki jalan
j = telson
k = ekor kipas
(http://rizal-bbapujungbatee.blogspot.com/2009/05/semua-tentang-udangwindu.html)
Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum.  ada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya adalah:
a. Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan.
b. Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat.
c. Sepasang sungut besar atau antena.
d. Dua pasang sungut kecil atau antennula.
e. Sepasang sirip kepala (scophocerit).
f. Sepasang alat pembantu rahang (maxilliped).
g. Lima pasang kaki jalan (periopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga
bercapit yang dinamakan chela.
h. Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang.

Bagian badan dan perut (abdomen) tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.
Ciri-ciri morfologi udang menurut Fast dan Laster (1992), mempunyai tubuh yang bilateral simetris terdiri atas sejumlah ruas yang dibungkus oleh kintin sebagai eksoskleton. Tiga pasang maksilliped yang terdapat dibagian dada digunakan untuk makan dan mempunyai lima pasang kaki jalan sehingga disebut hewan berkaki sepuluh (Decapoda). Tubuh biasanya beruas dan sistem syarafnya berupa tangga tali. Dilihat dari luar, tubuh udang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut bagian kepala, yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu. Bagian kepala tertutup kerapak, bagian perut terdiri dari lima ruas yang masing-masing ruas mempunyai pleopod dan ruas terakhir terdiri dari ruas perut, dan ruas telson serta uropod (ekor kipas). Tubuh udang mempunyai rostrum, sepasang mata, sepasang antena, sepasang antenula bagian dalam dan luar, tiga buah maksilipied, lima pasang cholae (periopod), lima pasang pleopod, sepasang telson dan uropod.

1.4       Daur Hidup Udang
Daur hidup udang meliputi beberapa tahapan yang membutuhkan habitat yang berbeda pada setiap tahapan. Udang melakukan pemijahan di perairan yang relatif dalam. Setelah menetas, larvanya yang bersifat planktonis terapung-apung dibawa arus, kemudian berenang mencari air dengan salinitas rendah disekitar pantai atau muara sungai. Di kawasan pantai, larva udang tersebut berkembang. Menjelang dewasa, udang tersebut beruaya kembali ke perairan yang lebih dalam dan memiliki tingkat salinitas yang lebih tinggi, untuk kemudian memijah. Tahapan-tahapan tersebut berulang untuk membentuk siklus hidup. Udang penaeid dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami beberapa fase, yaitu nauplius, zoea, mysis, post larva, juvenile (udang muda), dan udang dewasa (Fast dan Laster, 1992).

Menurut Rizal (2009), setelah telur-telur menetas, larva hidup di laut lepas menjadi bagian dari zooplankton. Saat stadium post larva bergerak ke daerah dekat pantai dan perlahan-lahan turun ke dasar di daerah estuari dangkal. Perairan dangkal ini memiliki kandungan nutrisi, salinitas dan suhu yang sangat bervariasi dibandingkan dengan laut lepas. Setelah beberapa bulan hidup di daerah estuari, udang dewasa kembali ke lingkungan laut dalam dimana kematangan sel kelamin, perkawinan dan pemijahan terjadi.
(http://www.ucmp.berkeley.edu/arthropoda/crustacea/crustaceamorphamm.html)

1.5       Habitat dan Penyebaran Udang
Udang hidup disemua jenis habitat perairan dengan 89% diantaranya hidup diperairan laut, 10% diperairan air tawar dan 1% di perairan teresterial (Abele, 1982).Udang laut merupakan tipe yang tidak mampu atau mempunyai kemampuan terbatasdan mentolerir perubahan salinitas. Kelompok ini biasanya hidup terbatas padadaerah terjauh pada estuari yang umumnya mempunyai salinitas 30% atau lebih.Kelompok yang mempunyai kemampuan untuk mentolerir variasi penurunan salinitassampai dibawah 30% hidup di daerah terestrial dan menembus hulu estuari dengantingkat kejauhan bervariasi sesuai dengan kemampuan spesies untuk mentolerirpenurunan tingkat salinitas. Kelompok terakhir adalah udang air tawar. Udang darikelompok ini biasanya tidak dapat mentolerir salinitas diatas 5%. Udang menempatiperairan dengan berbagai tipe pantai seperti: pantai berpasir, berbatu ataupunberlumpur. Spesies yang dijumpai pada ketiga tipe pantai ini berbeda-beda sesuaidengan kemampuan masing-masing spesies menyesuaikan diri dengan kondisi fisikkimiaperairan (Nybakken, 1992).

1.6       Tingkah Laku Udang
1.6.1    Sifat Nokturnal
Menurut Powers dan Bliss (1983), udang memiliki mata yang besar danbersifat seperti lapisan pemantul cahaya, fakta yang menguatkan dugaan bahwaudang bersifat nokturnal dimana udang lebih suka muncul pada malam hari. Jikaterganggu udang dapat melompat sejauh 20-30 cm menghindar dari gangguan.
1.6.2    Pergantian Kulit (Molting)
Pada peristiwa pergantian kulit ini, proses biokimia yang terjadi, yaitupengeluaran (ekskresi) dan penyerapan (absorbsi) kalsium dari tubuh hewan. Kulitbaru yang terbentuk berwarna pucat dan setelah 2-3 hari kemudian barulah warnasemula kembali, sebabnya adalah berubahnya kualitas air ataupun karena makananserta proses pengeluaran zat tertentu di tubuh udang (Romimohtarto dan Juwana,2007).
1.6.3    Tingkah Laku Makan
Udang termasuk golongan omnivora ataupun pemakan segalanya. Beberapasumber pakan udang antara lain udang kecil (rebon), fitoplankton, copepoda,polichaeta, larva kerang dan lumut. Untuk mendeteksi sumber pakan, udang berenangmenggunakan kaki jalan yang memiliki capit.Makanan ditangkap dengan capit kaki jalan (periopod) dan masukkankebagian mulut. Bagian makan yang kecil ditempatkan langsung disuatu tempatdidalam mulut sementara bagian makanan yang besar dibawa kedalam mulut olehmaxilliped atau alat-alat pembantu rahang (Fast dan Lester, 1992).

1.7       Ekologi Wilayah Pesisir
Wilayah pesisir yang dimaksud di Indonesia adalah daerah pertemuan antaradarat dan laut. Kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik keringmaupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang, anginlaut, dan perembesan air asin, sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencakupbagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di daratseperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiata manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto dalamWibisono, 2005).
Pada kawasan pesisir terdapat zona pantai yang merupakan daerah terkecildari semua daerah yang terdapat di samudera dunia, berupa pinggiran yang sempit.Wilayah ini disebut zona intertidal yang mempunyai kisaran geografis seperti pantaiberbatu,pantai berpasir dan pantai berlumpur (Nybakken, 1992). Dalam wilayahpesisir terdapat satu atau lebih ekosistem dan sumberdaya. Ekosistem pesisir dapatbersifat alami dan buatan manusia antara lain berupa tambak, kawasan wisata,industri atau pemukiman (Dahuri et al., 2004).
a. Pantai Berbatu
Zona pesisir yang tersusun dari bahan keras, mangandung keragaman floradan fauna serta organisme monoseluler lainnya. Zona ini bersifat khas dankekhasannya bergantung pada geografis. Fenomena pesisir dan bentuk terjadinyazona ini dapat menjadi refleksi toleransi organisme terhadap peningkatan keterbukaankomponen abiotik seperti udara terbuka, suhu yang ekstrim dan kekeringan. Selain ituterdapat faktor biologis yang dominan diantaranya persaingan dan pemangsa.
b. Pantai Berpasir
Zona ini bukan zona habitat tetapi tidak terpisahkan dari keseluruhan zonapesisir. Pantai pesisir intertidal terdapat di seluruh zona pesisir seluruh dunia.
c. Pantai Berlumpur
Pantai berlumpur terdapat pada zona pesisir yang terlindung dari aktifitasgelombang laut. Pantai berlumpur adalah habitat bagi makrofauna yang secaradominan terdiri dari mollusca dan crustaceae diantaranya adalah udang. Daerah inisangat subur bagi tumbuhan pantai seperti bakau (mangrove). Guguran daun danranting sebagai bahan organik mempersubur perairan pantai sehingga banyak dihunihewan antara lain jenis ikan dan udang. Habitat ini rentan terhadap pencemaran yangdilakukan oleh aktifitas manusia di daratan yang membuang limbah ke sungaiditeruskan ke pantai dan secara signifikan mencemari perairan laut dan kawasanpesisir.

2          Hasil Identifikasi Organ
2.1       Klasifikasi Jenis Udang
KlasifikasiUdangWindu :
Kingdom           : Animalia
Phylum              : Arthropoda
Class                  : Crustacea
Sub class           : Malacostraca
Ordo                  : Decapoda
Sub ordo           : Natantia
Family               : Penacidae
Genus                : Pennaeus
Spesies              : Pennaeusmonodon

2.2       Pembahasan Hasil Identifikasi Organ
Pada udang putih ini terdapat tiga bagian besar yaitu kepala dan badan (cephalothorax), perut (abdomen), dan ekor (uropoda). Bagian chepalotorax ini dibungkus oleh karapas dan terdapat pula rostrum yang merupakan tonjolan karapas yang bergerigi yang panjang dan melengkung dengan jumlah gigi pada bagian atas 11-13 buah dan bagian bawah mempunyai gigi sebanyak 8-14 buah gigi. Pada bagian dada mempunyai 5 pasang kaki jalan.
Udang putih jantan alat kelamin jantannya terdiri dari organ internal dan eksternal. Untuk organ eksternal, yaitu petasma yang terletak pada kaki jalan kelima yang merupakan modifikasi bagian endopodit pasangan kaki renang pertama. Sedangkan udang putih betina terdiri juga organ internal juga organ eksternal yaitu thelicum yang terletak di antara kaki jalan ketiga (Nontji, 1993).
Harpiosquilla sp memiliki tubuh ynag menyerupai belalang sembah dengan karapas menutupi kepala. Harpiosquilla sp memiliki talson yang berbentuk seperti kipas. Harpiosquilla sp biasanya hidup pada lubang – lubang atau membenamkan diri dalam pasir berlumpur.

3          Udang Penaeidae
            Berikut penjelesan singkat tentang udang yang termasuk dalam family Penaeidae yang mana udang berfamily tersebut telah saya lakukan pembedahan dan identifikasi organ – oragan tubuhnya, dan berikut penjelasan singkat yang berhasil saya kutip dari bahan ajar yang pernah dipaparkan oleh salah satu dosen FPIK Universitas Diponegoro, Semarang.
3.1       Morfologi Udang Penaeidae
-       Ada sekitar 11 jenis udang Penaeid di Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis penting; umumnya dari genera Penaeus dan Metapenaeus
-       Beberapa spesies telah dibudidayakan di tambak, yaitu: Udang Windu (Penaeus monodon), Udang Putih (Penaeus merguiensis dan Penaeus indicus), Udang Api-api (Metapenaeus monoceros dan Metapenaeus ensis), Udang Cendana (Metapenaeus brevicornis) dan Udang  Krosok (Metapenaeus burkenroad).
-       Secara komersial yang memiliki nilai pasaran yang tinggi adalah P. monodon dan P. merguiensis.

3.2       Siklus Hidup Udang Penaeidae
-       Udang Penaeid mempunyai dua fase kehidupan, yaitu fase di tengah laut dan di perairan muara
-       Induk P. monodon mampu menghasilkan telur sebanyak 450.000 butir sekali bertelur, P. merguiensis 100.000 dan P. semisulcatus 300.000 butir.
-       Telur menetas menjadi larva yang disebut dengan nauplius
-       Setelah molting beberapa kali Nauplius akan berubah menjadi zoea;
-       Zoea akan mengalami molting beberapa kali dan berubah menjadi mysis
-       Mysis akan bermetamorfosis menjadi Post Larva (PL

3.3       Daerah Penangkapan Udang Penaeidae
-       Daerah penangkapan udang mempunyai persamaan dengan daerah sebaran hutan mangrove
-       Penangkapan udang laut di beberapa lokasi telah berjalan dengan sangat intensif sehingga telah melebihi produksi lestari (MSY), misalnya di beberapa tempat di pantai utara Jawa, pesisir Kalimantan, Sumatra dan Irian Jaya.
-       Penangkapan biasanya dilakukan dengan menggunakan jaring arad, yang merupakan modifikasi dari trawl, yang sebenarnya dilarang oleh pemerintah.

Sumber :
Ghufron, Muneaki, Basri. 1997. Potensi Budidaya Udang. Bina Tjipta, Jakarta
Odum, E. 1971. Dasar-dasar Ekologi : edisi ketiga. Gadjah MadaUniversity Press. Yogyakarta
Nontji.2002. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan.
Nybakken, J. 1992. Biologi Laut suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta
. 1982. Biologi Laut. Gramedia. Jakarta
Radiopoetro.1982. Zoologi. Jakarta : Erlangga.
Soetarno. 2001. Budidaya Udang. Semarang: Aneka Ilmu
Suwignyo, Sugiarti. 1989. Avertebrata Air. Bogor. LembagaSumberdayaInformasi. IPB
(http://rizal-bbapujungbatee.blogspot.com/2009/05/semua-tentang-udangwindu.
html), diunduh pada: 12 Juni 2011, pukul: 20.33.
diunduh pada: 12 Juni 2011, pukul: 20.41.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar